Seonggok Daging Bercerita

Share Post

Pagi itu aku kembali dengan rutinitasku, berhadapan dengan buku dan pena dalam kamar yang sejak 2 bulan ini menemaniku. Tak ada yang istimewa di hidupku, aku hanyalah gadis normal biasa yang mengagumi setiap rangkaian rumitnya kata. Namun kali ini kuberanikan diri untuk menyusunnya. Jadi, sudilah engkau membaca tulisanku.

Baik, izinkan kuperkenalkan diriku sebagai sekelumit dari partikel semesta. Singkat saja namaku Dinda. Begitulah orang orang memanggilku.

Kembali lagi dengan buku dan pena yang sedang asyik kumainkan semenit yang lalu, waktu menunjukkan pukul 09;45 WIB yang artinya 15 menit lagi tugas ini harus terkumpulkan. Maka segera kuhidupkan ponselku sembari membaca pesan pesan yang masuk, kupotret hasil tulisanku lalu mengirimnya menuju kontak bernama “Bu Laila Naim” yang sudah tertera di layar.

Aku yakin sampai sini saja, kalian pasti berpikir betapa hampanya kegiatanku. Atau mungkin masih belum mampu membuat kalian berpikir demikian, akan kutunjukkan beberapa aktivitasku di pagi hari, siang bolong, sampai dengan senja di jemput fajar.

Aku tak lain adalah seorang pelajar, yang jujur saja sudah muak dengan belajar. Tapi memiliki cita-cita yang tinggi, yaitu mengajar. Di usia yang memasuki kalangan remaja ini, yang pada umunya memiliki rutinitas menggosipkan senior rupawan, tempat nongki baru, game seru, atau hanya sekedar mengeluhkan tugas yang menumpuk dalam daftar beban masa mudanya, aku lebih sering mengikis habis waktuku dengan beberapa alat tulis dan kertas kosong, berusaha meluapkan apa yang ku rasakan disana. Entah itu berupa tulisan atau hanya olahan goresan- goresan acak.

Aku masih meringkuk dalam kardus, didekap hampa, dininabobokan sunyi, hingga waktu yang bergerak seperti kendaraan yang remnya blong mengantarkanku pada kekosongan yang hampa, kelam, dan kedap. Menuntunku untuk mengunci hatiku sendiri. Tidak ada yang melihatku disini, atau memang mereka enggan.

Cukup kejam untuk remaja seusiaku yang dibiarkan seperti anak anjing berkeliaran, mengerikan. Berusaha mati matian memburu gelar yang entah sejatinya untuk apa. Hidup dengan segudang penghargaan yang hanya bisa di pamerkan pada dunia. Rasanya tak ada guna.

Flashdisk Kitab Kuning PDF

Kupikir dengan begitu mereka akan sedikit memberi simpati, ternyata nihil.

“Hahhh” sejenak aku menghembuskan nafas, mencoba memberi ruang di tengah tengah kegiatanku.

Lalu kuputuskan untuk mengambil minum, mengguyur tenggorokan keringku. Kudapati ayah disana berhadapan dengan berkas berkasnya, Timbullah nyaliku untuk memberi tahunya mengenai kemenaganku baru baru ini menjadi juara satu sekolah rangking paralel.

Kukerutkan bibir, menelan paksa saliva di tenggorokanku, lidahku bersiap mengatakan sesuatu. Tapi semua tercekat, mengingat kembali aku jarang berkomunikasi dengannya, bukan hanya dia, tetapi semuanya. Maka kusudahi saja kegiatan ini dan bergegas kembali ke kamar.

“Seperti ini saja lebih baik.” Ocehku sambil menatap bayanganku sendiri yang terpantul di cermin. Sudahlah, aku agak gila mungkin memang benar adanya.

Kalian tau? Rasaya seperti tak ada satu pun yang di pihakku. Memendam semua sendiri adalah rutinitasku. Tidak heran jikalau tulisanku ini sedikit percakapan, Kalaupun mau banyak, aku harus bercakap dengan siapa?

****

Kamar mandi sekarang tak berpenghuni, jadi kusambar cepat handukku dan memulai persiapanku malam ini. Kuputuskan untuk menghirup udara luar. Tidak,tidak. Aku tidak nongkrong bersama teman teman atau bahkan menonton konser tulus yang sedang berlangsung malam ini. Aku hanya duduk di halaman. Di temani beberapa cemilan dan segelas teh hangat yang mungkin seakarang sudah dingin.

Mengamati sekitar merupakan kegiatan favoritku akhir-akhir ini. Sudah sekitar semingguan aku terduduk seperti ini di tempat yang sama dan kegiatan yang sama. Satu hal lagi, yaitu pemandangan yang sama. Seorang wanita yang terduduk di seberangku bersama dengan anjingnya. Tak bisa kujelaskan bagaimana bentuk rautnya, seperti berekspresi, tapi tidak. Lalu kupalingkan menatap anak anjingnya. Apa ini? Bahkan nasib anjing ini saja lebih beruntung dariku, ia setidaknya memiliki orang yang menyayaginya, walau hanya satu, tapi aku pun mau.

Tak sadar, tanpa permisi, pipiku basah, terasa aliran air berasal dari kantung mataku, lantas tak cukup kuat untuk menampung genangannya.

“Hei, ada yang bisa kubantu?” sentak kuusap mataku yang tidak terasa gatal. “Tidak, aku baik-baik saja.”

“Boleh aku duduk disini?”

“Ah iya tentu.” Kugeser posisi badanku berusaha memberi celah wanita ini untuk duduk disebelahku bersama dengan anjingnya. Wah, sudah berapa lama aku tidak memiliki teman bicara?

“Melihatmu, seperti melihat diriku yang dulu.” Aku mengerutkan kening berusaha mencerna kata katanya dengan matang.

“Mau dengar sedikit kisahku?”

“Lumayan untuk mengisi waktuku malam ini.” Jawabku enteng.

“Ah iya maaf lancang, namaku Emely. Rumahku tidak jauh dari sini, mungkin hanya perlu

menapak sekitar 30 an langkah.” Wanita itu tersenyum sambil mengelus anak anjingnya.

“Senang bertemu denganmu Emely.” Lantas kami pun bersalaman. Rasanya hangat, aku rindu menggenggam tangan seseorang.

“Dan namamu?”

“Ah iya maaf, namaku Dinda, sepertinya kita tetanggaan. Tapi sebelumnya aku belum pernah melihatmu.”

“Yap, aku baru saja menetap disini sekitar 2 mingguan.”

Wajahnya begitu hangat untuk di pandang. Aku tidak tau, sebenarnya aku yang terlalu berlebihan atau memang dia memang demikian. Aku menikmati percakapan ini.

“Aku persis sepertimu, masa remajaku yang hampa.” Dia melanjutkan dialognya, aku menikmatinya.

“Kau tau Dinda, aku sekarang tak memiliki apapun. Jangan memandangku dengan rasa kasihan, ini kesalahanku.” Dia memberi jeda, bibirnya setangah setangah terbuka, sepertinya ada lanjutannya,

“Kau pasti merasa sendiri, sepi, hanya kau seorang.” Lantas aku hanya memandangnya, rasanya berlumat, baru saja aku merasakan dunia luar, tapi dia merusaknya, ada sedikit cipratan marahku di sana.

“Bagaimana? Aku yakin dugaaku benar 85%” Orang ini sok tahu menahu, dasar meracau tak jelas.

“Dugaanmu benar melebihi segalanya.” Tapi nyatanya mulutku tak mau munafik. Rupanya dia berbalik dengan pikiranku, tapi tak apa, sedikit rasa lega menghiasi disana. Wajahnya menyiratkan kemenangan, merasa dia insan yang paling benar.

“Aku seperti bercakap pada diriku yang dulu. Dan aku tentu tak ingin kau melanjutkan kisah remajamu seperti halnya dengan punyaku. Percayalah, semua hanya berawal dari sini. Dari hati kecilmu.” Cakapnya sembari menunjuk nunjuk dengan mantap.

“Sebenarnya ini sangat sederhana. Kau hanya perlu menggerakkannya. Mereka ada untukmu. Sayang sekali kau tak keburu melihat. Jika mereka tak mampu mendahului untuk memecah semua ini. Maka kau diperkenankan memulainya.”

Demi apapun tolong singkirkan wanita ini. Aku mulai muak dengan celotehannya. Sebenarnya apa yang merasukinya sampai sampai mengguruiku ditengah malam seperti ini.

“Kau banyak omong Emely. Sebenarnya apa yang kau tahu. Kau pikir aku tidak berusaha? Kau pikir aku juga betah dengan semuanya? Kau hanya modal bicara se-ringan membalik tangan. Kenapa tidak kau lakukan sendiri saja sana.”

“Karna aku sudah kehilangan mereka.” Oh tuhan dosa apalagi sekarang yang telah kuperbuat. Kau boleh menyebutku bodoh sekarang.

“Aku sudah tidak memiliki mereka, aku tidak diperkenankan untuk memulainya. Atau aku yang bodoh tidak menyadarinya. Lucu sekali sekarang aku benar benar sendiri.” Dia meluapkan semuanya. Tapi aku malah terpukau dengan ketegarannya yang berusaha untuk tidak membiarkarkan air mata itu terlepas dari kantung matanya.

“Emely, apa aku boleh memelukmu?”

“Tidak, sebelum kau menyelesaikan masalah pada dirimu.”

Aku menunduk. Dia lagi lagi memulainya. Aku akui dia wanita yang baik. Tapi tidak berarti dia dengan mudah ikut campur. Walau setiap katanya mungkin teramat bermakna.

“Aku permisi dulu.”

Sudahlah, aku tidak mau melanjutkannya lagi. Berjalan dengan memunggunginya adalah pilihan terbaikku kali ini.

Sesampainya, aku membanting tubuhku keras dikasur. Memandangi jejeran pahatan pahatan emas bertuliskan hal hal yang telah sanggunp kuraih. Ah, penghargaan penghargaan ini hanya sekedar penghargaan yang kadang kadang membuatku riya’. Semua itu kulakukan karna jenuh terhadap hidupku. Jenuh mendekam dalam kardus yang dengan berani kusebut sebagai rumah. Aku merasa tak pernah kemana mana selain berputar putar didalamnya. Berguling guling dengan takdirku sendiri.

Aku terbangun sednirian, bayang bayang senja tersenyum padaku, bagaimana bisa aku tertidur sebegitu lama? Kuusap mataku yang tidak tersa gatal. Aku tidak terbiasa langsung beraktivitas setelah bangun tidur. Aku lebih memilih untuk menikmati suasana setiap detiknya, hampir tak ada guna. Tapi aku menyukainya.

Angkasa berwarna jingga, tersudut aku dibawahnya. Aku terduduk sedang mendengarkan lagu yang kusuka, resapi irama pejamkan mata, tak tahu apa yang akan terjadi diluar sana, termenung berfikir. Seumpama aku kali ini berani untuk memulainya lagi, kira kira hal yang kulakukan pertama itu apa? Lagian tidak salah kan memulai lagi dari awal? Aku ingin dekat dengan mereka. Aku berkesempatan untuk tidak terlambat seperti halnya Emely.

Aku masih tenggelam dalam lagu dan lamunanku, lagu berikutnya merupakan Put Your Head On my Shoulder milik Paul Anka. Tiba-tiba aku teringat orang tuaku, tak hanya mereka. Tetapi semuanya. Terutama ibu, Alunan musik ini dapat kukenali tak lain adalah karnanya. Ah, kakak juga. Sudah berapa lama ia menetap disana? Berhadapan dengan skripsi-skripnya. Kali ini aku benar benar merindukannya.

****

Kupejamkan mata erat erat ketika angin tiba tiba menghembus. tak sejuk, malah kering. Berhasil memanggil kawanan debu untuk masuk ke rongga mataku, menyulapnya menjadi merah dan gatal, sekaligus perih.

Aku tersentak ketika membuka mata, seorang perempuan parubaya berkostum hitam putih dengan rambut tergurai tersenyum kepadaku. Bukan, kali ini bukan Emely.

Canggung, kubalas senyumnya dengan tipis.

“Maaf. Ibu terlalu lambat untuk tau bahwa kau sedang butuh dukungan.”

Aku merunduk, ingin marah, kenapa begitu lama menyadarinya? Tapi di sisi lain aku juga sedang menanan genangan air mata.

“Ibu selalu melihatmu disini memasang raut yang sama.” Sembari mengulurkan tangannya.

Tak usah tanya kelanjutannya bagaimana. Kupersilahkan kalian menebak nebak sendiri sambungannya. Bisa di bilang itu adalah awal mula kehidupanku sesungguhnya, yang semoga selalu menemaniku sampai beranjak dewasa.

Aku terlampau kesepian, hingga lupa bagaimana cara menghargai orang di sampingku yang sebenarnya selalu ada untukku, yang selama ini aku tidak pernah melihatnya. Keluarga, temanku, yang selalu memastikan keadaanku seperi apa, selalu menyempatkan waktu untuk, menyebut namaku, minimal.

Setelah menjalani belasan tahun. Aku tumbuh menjadi anak yang egois, Yang mementingkan diri sendiri. Yang selalu merasa bahwa dunia berputar hanya untukku seorang, akhirnya aku dikasih kesempatan untuk belajar.

‘Hei Dinda, lihat, orang orang disekitarmu itu amat banyak. Mereka selalu ada untukmu. Mereka selalu berusaha menyayangimu. Ini waktumu, tunjukkan balik, sebagaimana sayangnya kamu dengan mereka.’

Aku rasanya ingin menemui diriku yang dulu, yang sedang kebingungan, berusaha untuk mengatakan bahwa semuanya masih panjang. Kau di berhakkan untuk menjalaninya menjadi lebih baik. Lihat sekellilingmu, temanmu begitu banyak. Keluargamu senantiasa ada setiap kamu pulang. Lihatlah mereka.

Tuhan memanglah penyusun rencana yang bisa menyusun segala sesuatu dengan sangat rapi dan serba rahasia. Tiada yang tau apakah semua ini juga termasuk dari rencananya.

Maka kutulislah beberapa lembar tulisan untuk orang orang yang berkenan membacanya, sebagai catatan kecil yang aku harap bisa kalian bisa bawa ke hati kalian.

Aku tidak tau kalian bisa merasakan perasaan yang sama denganku atau tidak melalui tulisan ini. Tapi seonggok daging bernyawa ini berusaha untuk menyurahkannya. Jadi paling tidak

kau bisa memahaminya.


Eksplorasi konten lain dari Ruangku Belajar

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Komentar

Eksplorasi konten lain dari Ruangku Belajar

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca